Diobral Softbank, Ternyata Raksasa Ini yang Serok Saham GOTO

SoftBank (REUTERS/Issei Kato)

 Aksi jual masif saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) oleh perusahaan investasi raksasa global Softbank ternyata tidak menyurutkan manajer investasi besar lain untuk ‘menyerok’ saham tersebut.

Sebagai informasi, Softbank, lewat anak usahanya SVF GT Subco yang berbasis di Singapura tercatat menggenggam saham GOTO sebesar 8,71% pasca perusahaan sukses melakukan IPO pada paruh pertama tahun lalu.

Kepemilikan tersebut sejatinya tidak mengalami perubahan sama sekali hingga tutup tahun, meskipun lock up perdagangan bagi pemegang saham awal resmi berakhir 30 November tahun lalu.

Akan tetapi, situasi berubah 180 derajat tahun 2023 di mana Softbank secara perlahan mengurangi kepemilikannya di GOTO.

Pada akhir 2022 jumlah saham SVF GT memiliki 103,12 miliar (8,71%) saham GOTO atau sama dengan porsi ketika GOTO awal melantai di bursa. Sementara itu mengutip data terbaru Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), kepemilikan SVF GT di GOTO saat ini bersisa 92,29 miliar (7,79%) saham.

Data KSEI juga mencatat bahwa pelepasan teranyar oleh SVF terjadi pada akhir Maret lalu, dengan total yang dilego telah mencapai 10,83 miliar saham.

Artinya, SVF GT secara eksklusif melepas saham GOTO sepanjang tahun ini. Dengan asumsi rata-rata minimum penjualan dilakukan di harga Rp 100/saham, jumlah dana yang diperoleh dari pelepasan saham GOTO mencapai Rp 1 triliun lebih.

Charles Schwab Masuk

Sementara, seiring ‘parade’ jual ala SVF GT sepanjang tahun ini, nama manajer investasi besar asal Amerika Serikat (AS) Charles Schwab Investment Management, Inc masuk ke GOTO.

Charles Schwab tercatat memiliki posisi sebanyak 990,65 juta atau setara dengan US$7,20 juta (Rp107,33 miliar) saham e-commerce dan jasa ride-hailing tersebut per 31 Maret 2023.

Selain Charles Schwab, sejumlah fund asing lain yang menambah kepemilikan di saham GOTO per 31 Maret 2023, di antaranya, Mellon Investments Corporation yang membeli 12,92 juta saham GOTO (total kepemilikan 672,38 juta saham).

Kemudian, State Street Global Advisors (US) membeli 2,69 juta saham (total 326,37 juta saham), dan ETF Architect sebesar 34,27 juta saham (total 248,47 juta saham).

Masuknya sejumlah fund asing tersebut tampaknya merespons masuknya GOTO ke dalam daftar large cap di indeks FTSE seiring adanya review semi tahunan.

Perubahan konstituen indeks FTSE sendiri efektif per 20 Maret 2023.

Informasi saja, aksi beli oleh fund asing atau lokal dan broker saham lazim terjadi si saham-saham big cap yang punya likuiditas tinggi.

Biasanya, pembelian oleh broker tidak serta-merta untuk kepentingan investasi, melainkan lantaran mereka melakukan transaksi contract for difference (CFD).

CFD adalah kesepakatan yang dibuat dalam perdagangan derivatif di pasar keuangan di mana perbedaan penyelesaian (settlement) antara harga perdagangan saat pembukaan dan penutupan diselesaikan secara tunai.

CFD memungkinan trader bertransaksi di pergerakan harga efek dan derivatif. Derivatif sendiri instrumen dalam pasar keuangan yang diturunkan dari underlying asset (aset pendasar).

Pada dasarnya, CFD digunakan oleh investor untuk membuat taruhan harga soal apakah harga underlying asset atau efek akan naik atau turun.

Berkaitan dengan hal di atas, tujuan broker melakukan pembelian suatu saham adalah untuk mengamankan underlying asset ketika ada pihak yang akan melakukan short (jual kosong) atau long di saham tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*